Trabasterkini.com
Melihat foto seragam putih abu-abu kerap membawa ingatan pada masa sekolah yang penuh keterbatasan. Saat itu, belum ada dana BOS, belum ramai program bantuan pendidikan, dan fasilitas sekolah masih jauh dari kata layak. Ruang kelas sederhana, buku terbatas, bahkan kadang harus berbagi. Namun di tengah segala kekurangan itu, semangat belajar dan rasa hormat kepada guru justru terasa lebih kuat.
Berbeda dengan kondisi hari ini. Anggaran pendidikan terus meningkat, program silih berganti diluncurkan, dan laporan pertanggungjawaban semakin tebal. Sayangnya, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan besarnya dana yang digelontorkan. Kualitas pendidikan, pemerataan fasilitas, dan pembentukan karakter masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab.
Kritik terhadap kondisi ini bukan bentuk penolakan terhadap kemajuan, melainkan pengingat agar pendidikan tidak kehilangan jiwanya. Jangan sampai sekolah berubah menjadi sekadar ruang administrasi dan proyek anggaran, sementara murid dan guru terjebak dalam rutinitas sistem yang kaku. Pendidikan seharusnya memanusiakan manusia, bukan sekadar mengejar angka serapan dan target program.
Guru pun berada di posisi yang tak mudah. Selain mengajar, mereka dibebani berbagai kewajiban administratif yang kerap menyita energi dan waktu. Padahal, peran utama guru adalah mendidik dengan nurani, menanamkan nilai, dan membentuk karakter generasi penerus bangsa.
Dari bangku putih abu-abu inilah seharusnya refleksi dimulai. Dulu, keterbatasan melahirkan ketangguhan dan kejujuran. Kini, dengan segala kelengkapan yang ada, tantangannya adalah menjaga integritas, keadilan, dan tujuan luhur pendidikan itu sendiri.
Semoga para guru senantiasa diberi kesehatan, kesabaran, dan kekuatan dalam menjalankan tugas mulia mereka. Dan semoga teman-teman seperjuangan masa sekolah, di mana pun berada, tetap membawa nilai-nilai sederhana yang pernah diajarkan: kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab.
Anggaran boleh bertambah, zaman boleh berubah, tetapi nilai dan tujuan pendidikan seharusnya tidak pernah berkurang.
Penulis opini : Heppen




