Opini  

Seremonial Boleh Ramai, Amanah Jangan Sunyi

Trabasterkini.com

Di ruang publik, masyarakat kerap disuguhi deretan foto seremonial: potong pita, rapat koordinasi, kunjungan kerja, dan pernyataan normatif yang terdengar indah. Namun di balik itu, publik masih bertanya_di mana kejujuran pengelolaan amanah yang sesungguhnya?

Islam mengingatkan bahwa jabatan bukan panggung pencitraan, melainkan beban pertanggungjawaban. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba diberi amanah kepemimpinan, lalu ia menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim). Hadis ini cukup menjadi cermin, tanpa perlu menunjuk siapa pun.

Ketika keterbukaan hanya berhenti pada unggahan seremonial, sementara urusan anggaran, kebijakan, dan dampaknya tertutup rapat, di situlah kepercayaan mulai runtuh. Korupsi tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar; ia kerap menyamar rapi di balik laporan yang tidak utuh dan informasi yang sengaja disederhanakan.

Dalam Islam, ketidakjujuran sekecil apa pun adalah pengkhianatan. Harta yang bercampur dengan cara yang tidak benar tidak akan membawa keberkahan, meski dibungkus dengan bahasa pengabdian. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188).

Tulisan ini bukan vonis, melainkan peringatan. Karena kekuasaan sering kali membuat seseorang merasa aman dari sorotan manusia, namun lupa bahwa pengawasan Allah tidak pernah lengah. Kamera boleh memilih sudut terbaik, tetapi catatan amal tidak mengenal editan.

Maka nasihat ini sederhana: kurangi seremonial, perbanyak kejujuran. Buka informasi, jaga amanah, dan ingat bahwa jabatan hanya singgah sementara. Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya publikasi yang menyelamatkan, melainkan bersihnya tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *